Selasa, 09 Oktober 2012

Aku Terlalu Lama Sendiri

Cerita Kecil di Masa Lalu

Yaah.. sering kali terpikirkan olehku semua tentang kegelisahan ini. tentang kesedihan dimasa lalu. Tentang cinta yang kurasa tak seharusnya aku miliki. Tentang jiwa yang menunggu kebahagiaan serta kasih sayang keluarga. tentang kisah romantis yang kurindu dengan malaikat-malaikat penyejuk hati. benar ia adalah sosok seorang ibu. sebuah kasih sayang yang ingin kurasakan. tentang indahnya kebersamaan yang mereka rasakan. tentang cinta dan kasih yang mereka pula punnyai. 

Sadar dalam kisah kehidupanku ialah jalan yang berbeda dengan manusia lainnya. kita memiliki takdir-takdir sendiri. yaah.. inilah masa laluku masa yang begitu suram menurutku. dimana ketika itu yang terlihat hanya sebuah kegelisahan hati, kegundahan jiwa dan sepercak cahaya saja. Dan itupun untuk ku menangis.

Dulu ku pernah bercita-cita tentang sebuah harapan yang indah. Yang ku tulis dalam hati serta pikiran sehari-hari. mungkin hanya saya saja yang bodoh untuk berhayal tentang semua keindahan yang tak pasti menjadi milik ku.  yaahhh.. dulu aku sempat bermimpi untuk menjadi seperti mereka yang selalu bahagia, yang semuanya ada, bahkan mungkin tanpa memintapun sudah ia miliki. berpura-pura tersenyum ketika yang lain terseyum. berpura-pura bahagia kertika yang lain bahagia. berpura-pura menyenangkan hati agar hati menjadi sedikit bahagia. 

Munculnya Keikhlasan Hati dan Kerelaan Jiwa

pernah dalam kisah masa lalu ku pula diriku marah pada Tuhan yang menciptakan alam semesta ini. Aku marah tanpa alasan yang jelas, bukan karena siapa-siapa atau sebab siapa? , namun hati ini sudah muak dengan segala tangisan yang sudah tak berujung lagi. "yaaa Allah sudah puaskah engkau membebaniku dengan segala kegelisahan ini. aku tahu aku adalah hamba yang hanya karena sebab kasih sayang-Mu saja aku masih bisa hidup didunia ini. Namun apakah aku salah bila ku meminta suatu yang lebih indah dari pada sekarang. aku memang bukan orang kturunan wali atau semacamnya. aku memang bukan seorang hamba yang engkau sayangi. namun apakah aku tak engkau ridhai untuk menjadi insan yang mempunyai keikhlasan hati, sehingga aku dapat menerima kehidupanku dengan berpasrah diri. apakah aku alah bila hati ini meminta ketenangan yang hanya dari-Mu. sekrang bahkan aku mungkin sudah tak semestinya lagi begini. bahkan aku sudah berani berbicara lancang pada-Mu. maafkan aku wahai Tuhan-ku". 

Sejak saat itu kumulai sadar akan arti dari sebuah kehidupan, tentang arti sebuah perjuangan dan penantian. ku mulai bisa berpasrah dan menyerahkan segalanya kepda Ia dzat yang menciptakan dari apa yang ada di-langit maupun dari apa yang ada di-bumi ini. karena saking bosennya dalam kegelisahan yang tan\k pasti ahirnya ku memasrahkan segala kehidupanku. ku menyerahkan segalanya biarlah apa kata Tuhan-ku saja. biarlah semau-Nya. dan akhirnya sedikit demi sekit ku belajar akan arti dari sebuah keikhlasan hati, kerelaan jiwa dan kepastian akan janji Tuhan. 

mulia sat itu, ku selalu belajar melihat hikmah dari apa yang terjadi dalam kehidupanku. termasuk tentang kisah ayah yang mempunyai orang pengganti ibu setelah beliau meninggalkan ku sendiri. 

saat itu ego ku mulai timbul lagi. ku mulai muak dengan semua ini. bahkan ku sudah tidak mau lagi mau menginjak sebuah rumah dimana tempat diri ini terlahir. sering kali ku memikirkan apapun sendiri dan menjadi seorang yang penyendiri. bukanya tak ingin bersosial namun sikapku memnag menjadi seperti ini. akan tetapi peran sebuah keyakinan ialah kunci dari sebuah apapun dari segala yang terjadi dalam kehidupan. yang ku yakin "Allah tidak akan mungkin tanpa maksud melahirkanku kedunia ini. aku yakin akan janji-janji-Nya. dan aku yakin Ia pula telah merencanakan dari segala yang terjadi dalam sejarah kehidupan masa lalu dan sekarang". Hati ini mulai tenang lagi. dan akhirnya yang ku yakin dari sega hal yang terjadi dalam kehidupan ini ialah sebuah rencana yang struktur untuk pencapaian sebuah keberhasilan ku yang sudah Allah jauh-jauh persiapkan untuk ku nanti. yang ku yakin.... nukan Allah tak sayang, namun karena Ia menyayangilah maka terjadilah sebuah masalah-masalah dalam kehidupanku. ku mulai belajar seperti hal Isa AS. ku mulai belajar seperti halnya Nuh As dan ku mulai belajar seperti hanya Ismail. yang yang pasti ku mulai belajar memahami sikap-sikap Muhammad nabi-ku.

aku mulai menghargai akan arti dari sebuah masalah. akan makna dari sebuah musibah, dan akan sebuah takdir. dan takdirku ialah menjadi seorang yang bernama Saefullah, sosok orang yang menjalani segala kehidupan masa lalunya sendiri. Dan aku bersyukur aku punya Allah yang telah memberiku suatu masalah dalam kehidupan masa lalu ku, aku bahagia sekarang walau dulu seringkali menangisi takdirku. Allah telah merencanakan sebelum Ia memberi sebuah cobaan. dan pesanku "Jangan pernah menangisi dari segala yang terjadi saat ini, walau mungkin itu terasa berat untuk dijalani, walau mungkin itu terasa sangat menyakiti hati. Maka berpasrahlah... ketahuilah sesungguhnya Ia Allah telah merencanakan segala sesuatunya dengan penuh keindahan. yang harus kita lakukan sekarang ialah berusaha untuk mengalahkan masalah itu ataukah kita yang dikalahkan oleh masalah itu. apapun yang terjadi saat ini padamu, maka bergantunglah kepada Allah tuhan mu, karena ketika tak ada lagi manusia yang mau mendengar ceritamu, cukuplah Ia Allah yang akan menjadi teman dari segala kesusahan serta kegelihan hatimu. dekati IA dan jadikan Ia teman dikala apapun. sebab hanya kerena-Nya-lah kita kuat, kita lemah, kita hidup dan kita mati. hanya karena-Nya-lah kita bernafas dan mampu menyelesaikan masalah, bukan karena siapa penolong segolongamu sekrang. baik atau buruk perasaanmu sekarang maka seali lagi cukup Allah saja yang menjadi penolongmu mulai saat ini dan seterusnya." itu pesaku untuk engkau yang ingin berhati dan berbudi untuk merengkuh kenikmatan sejati. di akhirat yang hakiki.


Saefullah FPOK UPI Bandung
Selasa, 9 Oktober 2012

Tidak ada komentar:

Posting Komentar